Malaysia and Indonesian Dispute on the Transboundary haze issue

On 11 September 2019, the Indonesian Minister of Environment and Forestry Mdm Siti Nurbaya press statement had caused a diplomatic dispute between Malaysia and Indonesia. While by looking at the article from Antara alone, it did not give a whole picture of the story. In the press, the Minister did mentioned she had the meeting with BMKG, the meteorological department of Indonesia. By looking at the BMKG report, I noticed that the Minister statement was based on what had been briefed during the KLHK & BMKG meeting.

Thus, it is important to look into the details of the BMKG report before draw any conclusion that might create further misunderstandings between the two countries.

Malaysian Environment Minister Ms Yeo mentioned that “maybe Siti Nurbaya did not access to the ASMC haze data”. ASMC is the ASEAN Specialised Meteorological Centre that is operational in Haze Monitoring that located in Singapore.

The ASMC haze monitoring of the fire hotspot is using satellites NOAA 19, MODIS Aqua and MODIS Terra. While from the Antaranews during KLHK & BMKG briefing, they are using geostationary satellite Himawari-8 and Sentinel to detect fire hotspot. There could be a difference between the algorithm used to identify the fire hotspot between ASMC and BMKG. By using different satellites and different algorithms will create totally different results on the fire hotspot detection.

Our Indonesian neighbor is praying for rain, as the air is chocking and some areas the visibility just left 3m. unfortunately, ASMC did highlights that the positive Indian Ocean Dipole is occurring and it will cause the the southern ASEAN region to be very dry. The wild fire always become very severe during El Niño and Positive Indian Ocean Dipole. And diplomatic disputes between Malaysia and Indonesia always occurred during the two events.

In Indonesia, they are calling the haze as asap Karhutla

Below are the major article from Antara during the press conference:

Antaranews.com 11 September 2019

Menteri LHK Minta Malaysia objektif soal kabup asap

Some of the important details have been highlighted below (Google Translation into English)

Tidak semua kabut asap berasal dari wilayah Indonesia,” kata dia, seperti dikutip melalui siaran persnya, diterima di Jakarta, Rabu.

(Not all the haze comes from the territory of Indonesia, “she said, as quoted by his press release, received in Jakarta on Wednesday.)

Ia minta pemerintah Malaysia membuka informasi yang sebenar-benarnya terkait kabut asap ini. “Ada informasi yang dia tidak buka. Karena sebetulnya asap yang masuk ke Malaysia, ke Kuala Lumpur, itu dari Serawak kemudian dari Semenanjung Malaya, dan juga mungkin sebagian dari Kalimantan Barat. Seharusnya pemerintah Malaysia obyektif menjelaskannya,” kata dia.

(SHe asked the Malaysian government to disclose real information related to this haze. “There is information that he did not open. Because actually the smoke coming into Malaysia, to Kuala Lumpur, it was from Sarawak and then from the Malay Peninsula, and also maybe part of West Kalimantan. The Malaysian government should have objectively explained it,” she said.)

Ia juga menyayangkan sikap Singapura yang menyebut ada asap dari Riau menuju Singapura. Padahal, kata dia, titik api di Riau sudah turun. “Tidak benar, ada dari Riau nyeberang ke Singapura. Titik api di Riau sudah turun. Kita punya 46 helikopter yang bekerja di lapangan,” ucapnya.

(SHe also regretted the attitude of Singapore which said there was smoke from Riau to Singapore. In fact, she said, the hotspots in Riau had gone down. “Not true, there is from Riau crossing to Singapore. Hotspots in Riau have gone down. We have 46 helicopters working in the field,” she said.)

Ia menyatakan, saat ini sudah tidak ada trans boundary haze atau asap lintas negara. “Puncak asap tertinggi terjadi pada 8 September pagi, tapi hanya terjadi satu jam karena angin bergerak ke arah Barat Laut. Dari Kalimantan dan Serawak, Kalimantan Barat, Serawak, dan Semenanjung Malaysia. Jadi jangan bilang hanya dari Indonesia gitu lho,” katanya.

(SHe stated, currently there are no trans boundary haze or cross-country haze. “The highest smoke peak occurred on September 8 morning, but only happened for an hour because the wind moved to the Northwest. From Kalimantan and Sarawak, West Kalimantan, Sarawak and Peninsular Malaysia. So don’t say just from Indonesia, you know,” she said.)

Source: https://www.antaranews.com/berita/1055832/menteri-lhk-minta-malaysia-obyektif-soal-kabut-asap

In order to understand more details about her statement during the press conference, we should also check on the briefing of the haze situation between KLHK & BMKG.

Antaranews.com 10 September 2019

Peningkatan titik panas di wilayah ASEAN picu akumulasi asap Karhutla

Jakarta (ANTARA) – Berdasarkan pengamatan dan analisis BMKG dari citra satelit Himawari dan Satelit Sentinel teridenti?kasi adanya peningkatan jumlah titik-titik panas atau hotspot yang memicu akumulasi asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara mencolok di beberapa wilayah ASEAN.

Peningkatan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga terjadi terutama di wilayah Semenanjung Malaysia dan sebagian Vietnam yang memicu peningkatan kabut asap yang menyebar secara lokal di wilayah masing-masing, dan tidak menyebabkan terjadinya asap lintas batas (transbondary haze).

“Berdasarkan pengamatan citra satelit Himawari-8 dan analisis Geohotspot BMKG, asap yang terdeteksi di Semenanjung Malaysia tanggal 5-7 September 2019 berasal dari lokal hotspot,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geo?sika (BMKG), Dwikorita Karnawati pada jumpa pers bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan BMKG di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Selasa.

Dwi menambahkan jika lokal hotspot yang menimbulkan asap di Semenanjung Malaysia karena terjadi lonjakan signi?kan jumlah titik panas yang hampir merata di wilayah Semenanjung Malaysia pada 6 September 2019, sebanyak 1.038 titik panas menjadi 1.423 titik panas pada 7 September 2019.

Sementara itu, di wilayah Riau dan perbatasan Sumatera timur dengan Malaysia terjadi kebalikannya, yaitu penurunan jumlah titik panas secara signi?kan, dari 869 titik panas dari 6 September menjadi 544 titik panas pada 7 September.

Menurut dia, kondisi arah angin juga tidak memungkinkan adanya asap lintas batas dari Indonesia karena sejak 5 September hingga 9 September arah angin di wilayah perbatasan Riau dengan Semenanjung Malaysia cenderung bergerak dari arah tenggara ke barat laut dengan kecepatan 5 hingga 10 knot, sehingga kabut asap dari Karhutla di Indonesia (Riau) tidak akan mencapai wilayah Malaysia dan Singapura.

Asap di Sumatera (Riau) tidak terdeteksi melintasi Selat Malaka karena terhalang oleh angin kencang dan dominan di Selat Malaka yang bergerak dari arah tenggara ke barat laut,” lanjut Dwi.

Sementara itu, untuk hotspot di wilayah Serawak dan Kalimantan Barat, Dwi menjelaskan jika berdasarkan analisis dari citra satelit Himawari dan analisis Geohotspot BMKG, terdeteksi terjadi lonjakan titik panas di Serawak dan Kalimantan Barat pada tanggal 4 September 2019. Namun demikian meski sempat terjadi penurunan titik panas pada tanggal 8 September 2019 di Serawak, namun meningkat kembali pada 9 September 2019.

Sementara untuk di Kalimantan Barat terjadi penurunan titik panas dari 8 September 2019 ke 9 September 2019. Artinya jika terjadi asap di wilayah Serawak itu disebabkan oleh lokal hotspot di wilayah tersebut yang ternyata jumlahnya juga meningkat terus beberapa hari terakhir.

Untuk asap yang berasal dari hotspot di Serawak, Semenanjung Malaysia dan Kalimantan Barat ini diperkirakan terakumulasi di perairan Laut Cina Selatan karena ada dorongan angin dari arah Tenggara ke Barat Laut. Data dan fakta tersebut semakin menjelaskan bahwa tidak terjadi asap lintas batas (transbondary haze) yang berasal dari kejadian Karhutla di Indonesia.

Terkait hal tersebut, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK Ruandha Agung Sugardiman juga menjelaskan bahwa kejadian Karhutla yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 masih normal.

Apa yg terjadi di kita ini merupakan ]uktuasi tahunan yang biasa terjadi di Indonesia, ini masih di bawah dari Business As Usual (BAU) yang biasa terjadi di Indonesia. Hal ini karena Pemerintah Indonesia telah merubah paradigma dari pemadaman menjadi pencegahan,” ujar Ruandha.

Data KLHK sampai 31 Agustus 2019 menunjukkan luas areal lahan dan hutan yang terbakar seluas 328 ribu hektare (ha) yang berarti masih 35 persen lebih rendah dari luas areal terbakar pada 2018 yang mencapai 510 ha.

Luas areal terbakar tahun 2019 itu terbagi di lahan gambut seluas 89 ribu ha, dan di lahan tanah mineral seluas 239 ribu ha. Data ini mengkon?rmasi jika perlindungan areal gambut di Indonesia lebih baik karena luas areal terbakar tidak didominasi pada areal gambut yang sulit dipadamkan melainkan di tanah-tanah mineral yang relatif lebih mudah dipadamkan.

Pewarta: Virna P Setyorini Editor: Yuniardi

Read more at: https://www.antaranews.com/berita/1055348/peningkatan-titik-panas-di-wilayah-asean-picu-akumulasi-asap-karhutla