Hotspot Makin Banyak, Polusi Udara di Riau Kini Level Bahaya

Jakarta, 1 Maret – Titik panas (hotspot) di Riau semakin banyak. Berdasarkan satelit Terra Aqua pada Jumat (28/2/2014) sore, jumlah titik panas di Sumatera capai 624 titik menyebar di sejumlah kabupaten.
Sebagian besar atau sebanyak 602 titik berada di Provinsi Riau. Akibatnya hampir seluruh kabupaten di Riau terkepung asap. Data dari Posko Tanggap Darurat, diketahui, kondisi udara paling tercemar saat ini di Kabupaten Siak. Selain Siak, status Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) berstatas berbahaya dengan posisi warna hitam kota Perawang dan Kandis.
Sementara kota Pekanbaru, ISPU pada level tidak sehat, masih dibawah Kabupaten Siak. Sedangkan, di Kota Duri Kabupaten Bengkalis ISPU berada di posisi sangat tidak sehat.
“Kita mengharapkan, masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Terlebih pada level indeks udara Berbahaya,” ucap N Said Saqlul, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jumat (28/2/2014).
Sebelumnya, sejumlah daerah di Provinsi Riau sudah menetapkan status tanggap darurat kabut asap sebagai kejadian luar biasa (KLB) menyusul banyaknya hotspot yang tersebar di Riau.
Presiden Yudhoyono  memerintahkan menghukum pelaku pembakaran lahan dan hutan. Menurutnya pengendalian kebakaran hutan tidak cukup dengan sosialisasi namun harus berujung pada penegakan hukum terhadap para pelaku pembakaran tanpa pandang bulu, termasuk yang melibatkan korporasi sekali pun.
Hingga saat ini, polisi telah menindak 41 orang pelaku pembakaran. Diantara mereka kini sudah divonis 6 bulan sampai 9 tahun penjara. “Bapak presiden sudah memberi petunjuk modus operandi bukan hanya sosialisasi tapi langsung pada penegakan hukum, penyelidikan, penyidikan sampai penuntutan, terutama korporasi bukan hanya rakyat kecil,” jelas Menko Kesra Agung Laksono.
Kini, lanjut Menko Kesra, pemerintah tengah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan agar ada sinergisitas antarkementerian, lembaga pusat, dan daerah. Termasuk dengan keberadaan warga negara asing (WNA) yang memiliki izin operasi di Riau.
Sementara upaya pemadaman akan dilakukan oleh satgas penanggulangan bencana asap yang terdiri dari satgas udara, satgas darat, satgas penegakan hukum dengan menggunakan 2 pesawat Hercules, 6 pesawat Cassa.
Selain itu, untuk keperluan boombing 2 pesawat amphibi, 2 helikopter kamov, 2 helikopter sikosky, 4 helikopter bolcow. Untuk penangan bencana asap selama tahun 2014 ini di seluruh wilayah Indonesia, pemerintah menyediakan Rp300 miliar. “Semua akan dioperasikan di Sumatera dan Kalimantan sesuai keperluan. BNPB telah menyiapkan dana siap pakai Rp300 miliar untuk penanganan bencana asap selama tahun 2014 di seluruh wilayah Indonesia. Pemakaiannya disesuaikan keperluannya,” jelas Syamsul Maarif, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Menurutnya hampir semua bencana asap adalah karena dibakar. Artinya ada pelaku yang membakar lahan dan hutan. Jika tidak ditindak maka akan berulang terus.
Pertanian dengan cara membakar memang ada di Sumatera dan Kalimantan tapi yang penting terkontrol. Apalagi jika daerahnya gambut seperti di Riau yang ketebalannya hingga 10 meter, maka akan menyebabkan sulit untuk memadamkan. (Nn/Gs)

Source